Selasa malam, menjelang dini hari
Jendela kamarku diketuk oleh seseorang, suara agak berat memanggil namaku,
“Nurul, Rul, buka pintunya nak…” panggilnya berulang.
Aku yang saat itu sedang tiduran diruang tamu, bergegas membuka pintu.
Sudah biasa, tengah malam begini beliau datang, kebiasaan yang akupun sudah takl lagi ingat bermula kapan, sejak kesibukan mulai menyapa beliau, sejak dahulu.
Saat masuk rumah, beliau akan menyapa satu persatu anaknya, pun mereka yang sedang tertidur pulas, walau sekadar mencium, mengusap, memperbaiki selimut atau memeprbaiki gaya tidur mereka yang mungkin sedang tak karuan.
Bahkan tak jarang, sebelum beliau istirahat kekamarnya, beliau kerap memangku kepalaku dan mengusap2nya. Ahh, lelaki itu.
“Nurul, Rul, buka pintunya nak…” panggilnya berulang.
Aku yang saat itu sedang tiduran diruang tamu, bergegas membuka pintu.
Sudah biasa, tengah malam begini beliau datang, kebiasaan yang akupun sudah takl lagi ingat bermula kapan, sejak kesibukan mulai menyapa beliau, sejak dahulu.
Saat masuk rumah, beliau akan menyapa satu persatu anaknya, pun mereka yang sedang tertidur pulas, walau sekadar mencium, mengusap, memperbaiki selimut atau memeprbaiki gaya tidur mereka yang mungkin sedang tak karuan.
Bahkan tak jarang, sebelum beliau istirahat kekamarnya, beliau kerap memangku kepalaku dan mengusap2nya. Ahh, lelaki itu.
Esok paginya, rumah sudah heboh,
Yah, alasan utama adalah kepulangan beliau kerumah.
Begitulah, keberadaannya selalu dinanti oleh semua penghuni rumah.
Pagi hari jika sedang dirumah, beliau akan menyempatkan duduk2 dan bercengkrama dengan keluarga tercinta, biasanya menikmati oleh2 yang beliau bawa dari daerah.
Hampir 2 minggu perjalanan beliau baru2 ini,
Rute yang ku tau Jakarta->batam->jakarta->makassar->kolaka->pare-pare->setelah itu tak tau lagi hingga kembali kejakarta . bukan tugas dinas, karena beliau bukan pegawai pemerintah, beliau pegawainya Allah, begitu kujuluki beliau, sebab jam terbang belaiu melebihi anggota dewan, walau tak ada pengawalan dalam perjalanannya, tapi kuyakin ada malaikat yang menjadi body guard beliau kemanapun beliau melangkah. Hafidzohullah.
Yah, alasan utama adalah kepulangan beliau kerumah.
Begitulah, keberadaannya selalu dinanti oleh semua penghuni rumah.
Pagi hari jika sedang dirumah, beliau akan menyempatkan duduk2 dan bercengkrama dengan keluarga tercinta, biasanya menikmati oleh2 yang beliau bawa dari daerah.
Hampir 2 minggu perjalanan beliau baru2 ini,
Rute yang ku tau Jakarta->batam->jakarta->makassar->kolaka->pare-pare->setelah itu tak tau lagi hingga kembali kejakarta . bukan tugas dinas, karena beliau bukan pegawai pemerintah, beliau pegawainya Allah, begitu kujuluki beliau, sebab jam terbang belaiu melebihi anggota dewan, walau tak ada pengawalan dalam perjalanannya, tapi kuyakin ada malaikat yang menjadi body guard beliau kemanapun beliau melangkah. Hafidzohullah.
Abah, begitu aku dan adik-adik memanggil beliau.
Pagi hari,
Setelah bercengkrama dan bertukar cerita, tentang perjalanan beliau, atau cerita adik2 tentang sekolahnya, atau cerita apapun itu yang selalu saja mengundang tawa.
Semua kembali sibuk, yang sekolah bersiap kesekolah, akupun bergegas bersih2 dan membuat sarapan.
Beliaupun tak luput dari kesibukan pagi itu, tak ada tanda lelah, tak terlihat bekas perjalanan jauh dan panjang serta beratnya tugas yang beliau emban selama perjalanan.
Adik2 berangkat kesekolah, abah berangkat kekantor seperti biasa. Tidak ada tidur pagi tambahan yang lazim orang2 lakukan setelah perjalanan jauh. Jarak kantor yang jauh, cipinang Jakarta timur, sedang rumah kami yang terletak dibilangan Depok. Belau akan tetap pergi, jangan katakan pake mobil pribadi,
Beliau pake angkutan umum biasa, sambung menyambung angkot dan kereta, atau numpang mobil lembaga atau tatangga.
Pagi hari,
Setelah bercengkrama dan bertukar cerita, tentang perjalanan beliau, atau cerita adik2 tentang sekolahnya, atau cerita apapun itu yang selalu saja mengundang tawa.
Semua kembali sibuk, yang sekolah bersiap kesekolah, akupun bergegas bersih2 dan membuat sarapan.
Beliaupun tak luput dari kesibukan pagi itu, tak ada tanda lelah, tak terlihat bekas perjalanan jauh dan panjang serta beratnya tugas yang beliau emban selama perjalanan.
Adik2 berangkat kesekolah, abah berangkat kekantor seperti biasa. Tidak ada tidur pagi tambahan yang lazim orang2 lakukan setelah perjalanan jauh. Jarak kantor yang jauh, cipinang Jakarta timur, sedang rumah kami yang terletak dibilangan Depok. Belau akan tetap pergi, jangan katakan pake mobil pribadi,
Beliau pake angkutan umum biasa, sambung menyambung angkot dan kereta, atau numpang mobil lembaga atau tatangga.
Siang hari, adik2 pulang sekolah,
Penuh suka cita bercerita, bahwa abahnya sedang dirumah, keberadaan beliau dirumah adalah sebuah hal yang “WAH” mengingat beliau yang terlalu sibuk dengan amanahnya diberbagai daerah. Akupun tak luput tersenyum sumringah.
Penuh suka cita bercerita, bahwa abahnya sedang dirumah, keberadaan beliau dirumah adalah sebuah hal yang “WAH” mengingat beliau yang terlalu sibuk dengan amanahnya diberbagai daerah. Akupun tak luput tersenyum sumringah.
Jam sembilan malam,
Jam beliau sampai dirumah setelah seharian menghabiskan waktu dikantor. Adik sudah tirur semua.
Serta merta memberi aba-aba kepada salah satu putrinya untuk menyiapkan baju-baju beliau.
Yah, pukul satu dini hari nanti beliau akan kembali bertolak kesulawesi,
Setalah hanya menghabiskan waktu diJakarta 1X24 jam saja.
Abah pergi lagi. Aku masih ingat, kebersamaan beliau dengan adik2ku pagi tadi hanya bekisar 30 menit,
Pernah khawatir, adik2 akan kehilangan figur dan tarbiyah dari beliau, tapi ternyata tidak, ummi 24 jam dirumah mengurus anak-anak dan rumah, sambil kerja sambilan. Harapku, Semoga itu bisa mengimbangi.
Jam beliau sampai dirumah setelah seharian menghabiskan waktu dikantor. Adik sudah tirur semua.
Serta merta memberi aba-aba kepada salah satu putrinya untuk menyiapkan baju-baju beliau.
Yah, pukul satu dini hari nanti beliau akan kembali bertolak kesulawesi,
Setalah hanya menghabiskan waktu diJakarta 1X24 jam saja.
Abah pergi lagi. Aku masih ingat, kebersamaan beliau dengan adik2ku pagi tadi hanya bekisar 30 menit,
Pernah khawatir, adik2 akan kehilangan figur dan tarbiyah dari beliau, tapi ternyata tidak, ummi 24 jam dirumah mengurus anak-anak dan rumah, sambil kerja sambilan. Harapku, Semoga itu bisa mengimbangi.
Itulah kisah 1X24 jamnya beliau dirumah yang sempat terekam memoryku.
Pernah bertanya dalam hati “Tidakkah dia lelah?” “Atau dia memang tak pernah kenal kata lelah?”
Aku saja yang hampir seluruh umurku menyaksikan perjalanannya kesambet lelahnya.
Terlebih ,Beliau ayah dari 10 orang anak,
Beliau juga Seorang mahasiswa program doktoral, dan suami dari istri yang masih berstatus mahasiswi yang sedang merampungkan tesisnya, ayah dari 4 orang yang juga sedang berstatus mahasiswa/I, dua anaknya yang duduk dibangku smp, 3 anak dibangku SD dan satu lagi balita, pernah mencoba memikirkan, bagaimana cara beliau membagi segalanya, waktu,tenaga, pikiran, bahkan nafkah untuk itu semua… Ahh, rasanya mau gila.Dulu, kata ummi, saat aba sedang merampungkan progmam magisternya, kadang dari bandara langsung ke kampus untuk mengikuti perkuliahan akibat padatnya agenda beliau. Mungkin, berkah keikhlasan, semua berjalan mudah bahkan indah. grin emoticon
Pernah bertanya dalam hati “Tidakkah dia lelah?” “Atau dia memang tak pernah kenal kata lelah?”
Aku saja yang hampir seluruh umurku menyaksikan perjalanannya kesambet lelahnya.
Terlebih ,Beliau ayah dari 10 orang anak,
Beliau juga Seorang mahasiswa program doktoral, dan suami dari istri yang masih berstatus mahasiswi yang sedang merampungkan tesisnya, ayah dari 4 orang yang juga sedang berstatus mahasiswa/I, dua anaknya yang duduk dibangku smp, 3 anak dibangku SD dan satu lagi balita, pernah mencoba memikirkan, bagaimana cara beliau membagi segalanya, waktu,tenaga, pikiran, bahkan nafkah untuk itu semua… Ahh, rasanya mau gila.Dulu, kata ummi, saat aba sedang merampungkan progmam magisternya, kadang dari bandara langsung ke kampus untuk mengikuti perkuliahan akibat padatnya agenda beliau. Mungkin, berkah keikhlasan, semua berjalan mudah bahkan indah. grin emoticon
Beliau, tipe orang dingin, tak banyak bersuara,
Namun, banyak hal yang beliau ajarkan tidak dengan kata-kata.
Beliau mengajarkan, kesederhanaa, ikhlas, tegar, dan tabah dalam segala keadaan, terutama memberi isyarat bahwa hidup itu harus beroreantasi akhirat. Semua hal itu membuat malu untuk mengeluh, alasan aku membenci diriku saat kebablasan berpangku tangan dan berleha-leha, beliau tidak sempurna lazimnya manusia, namun apa ada dirinya seakan menutupi lautan kekurangannya.
Namun, banyak hal yang beliau ajarkan tidak dengan kata-kata.
Beliau mengajarkan, kesederhanaa, ikhlas, tegar, dan tabah dalam segala keadaan, terutama memberi isyarat bahwa hidup itu harus beroreantasi akhirat. Semua hal itu membuat malu untuk mengeluh, alasan aku membenci diriku saat kebablasan berpangku tangan dan berleha-leha, beliau tidak sempurna lazimnya manusia, namun apa ada dirinya seakan menutupi lautan kekurangannya.
Dini hari tadi, sebelum beliau berangkat, beliau bilang, perjalanannya ini akan memakan waktu kurang lebih dua mingguan. Itu berarti beliau akan kembali kerumah, sesaaat sebelum kepulanganku ke Negeri kinanah. Beberapa waktu lalu, abah meminta merubah jadwal kepulanganku, bukan apa-apa, antisipasi jika bentrok dengan jadwal abah, sebab menurut jadwal, beliau punya agenda pada hari yang sama, diBaras, daerah diujung sulawesi barat. Setelah beberapa kali naanya travel tempatku membeli tiket, jawabannya sama, tidak ada tiket bulan september, ada juga oktober dengan denda U$ 200.
Ahh, terlalu mahal bagiku, itu akan merepotkan abah, belum lagi biaya tetek bengek yang akan kubawa serta.
Sempat mengikhlaskan diri pulang tak diantar beliau, pasrah, toh bukan pertama kalinya tak diantar beliau, bedanya ini perjalanan terlalu jauh bagiku juga kepergianku yang akan lama. Masa iya, gak diantar beliau??
Ahh, terlalu mahal bagiku, itu akan merepotkan abah, belum lagi biaya tetek bengek yang akan kubawa serta.
Sempat mengikhlaskan diri pulang tak diantar beliau, pasrah, toh bukan pertama kalinya tak diantar beliau, bedanya ini perjalanan terlalu jauh bagiku juga kepergianku yang akan lama. Masa iya, gak diantar beliau??
Tetapi, alangkah bahagianya, saat abah mengatakan, mengusahakan akan dijakarta saat hari keberangkatanku nanti. Ahh, mungkin aku egois, tidak memikirkan bagaimana cara beliau merombak agenda atau bahkan mengabsenkan diri, tapi aku tak bisa menutupi kebahagiaan saat aku mendengarnya. Ahh, beliau, anugrah Allah yang terindah.
Syukron laka ya baba,
Walillahilhamd…
Walillahilhamd…
Depok, 17 Sept 2013 H-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar