Senin, 02 November 2015

_Sebuah Cerita tentang Cita-cita Abah_

Tak lagi muda, sebagian rambut mulai berubah warna
umur 48 tahun, hampir setengah abad lamanya.
lelaki dengan segudang kesibukan yang tak bisa kutuang dalam kata-kata
Bekerja menafkahi seorang istri dan 10 permata hatinya, tercatat sebagai mahasiswa program doktoral disalah satu Univesitas diBogor, Jawa Barat. Juga menjabat sebagai pengurus disalah satu lemabaga islam.
Menyingkap kesibukan beliau adalah hal konyol,
kadang menjadi permainan tebak-tebakanku malam hari bersama adik-adik dirumah,
sedang apa dan dimana? makan apa tidur dimana? Enakkah? Nyenyakkah?
yah, dan jawaban yang paling tepat adalah" tidur" yang mengantarkan kami pada pagi. Memikirkannnya saja melelahkan, bagaimana melakoninya bukan?
Yah lelaki itu, lelaki teristimewa, untuk kami, (Read: aku dan adik-adik) permata-permata yang memanggil beliau dengan sebutan 'abah'.
Suatu malam selepas maghrib, kami sekeluarga berkumpul diruang tengah dirumah kami yang sederhana,disana kami bercerita, bersenda gurau dan berceloteh tentang apa saja. Tiba-tiba, abah berkisah tentang sebuah cita-cita yang dipendamnya.
"Abah punya keinginan bisa menghafal Al-Qur'an kaya anak-anak abah, menghapal sampai habis gak setengah-setengah, harus khatam" Ungkapnya penuh harap.
"Karena aba banyak kerjaan, Abah akan coba sedikit demi sedikit, ayat per ayat, paling gak 2 atau 3 atau 4 bulan sekali bisa dapat satu juz, jadi jika Allah masih memberi umur 10 tahun lebih untuk abah, maka sebelum kembali abah bisa selesai 30 Juz, jadi doakan abah panjang umur yah nak" lanjut beliau yang diamini istri dan anak-anaknya. Saat itu, aku tak kuasa menyembunyikan airmata.
Hidup abah mungkin tidak seberuntung kami, beliau tidak dibesarkan dalam suasana religi, beliau tidak pernah berstatus 'santri', tidak seperti kami yang sudah mulai dikirim kepesantren sejak dini. Ada rasa haru yang menyeruak mendengar tutur beliau yang begitu jujur dan merendah, ah, orang tua yang ingin mengikuti jejak anak-anaknya? Fadlun minallah, ada dua adik yang telah menyelesaikan Hapalannya, dan seorang adik lagi yang hampir selesai,bukankah terbalik? kadang anak yang harus mengikuti jejak orang tuanya?
mungkin bagi abah, untuk hal yang satu ini semoboyan itu tidak berlaku baginya. Itulah mengapa, saat adik no 2 ada dirumah, Status imam solat tak lagi dipundak abah, abah akan mundur selangkah dan mempersilahkan anak ke-2nya melakoni tugasnya, abah tau diri dimana seharusnya beliau berada, kadang mata ini berkaca-kaca melihat abah yang selalu saja merendah dihadapan anak-anaknya dalam masalah agama.
Masih diselimuti haru memikirkan kata-kata beliau maghrib itu, teringat suatu hari beliau pernah dengan bangga menceritakan progres hapalannya kepada kami semua, kala itu beliau telah menyelesaikan surah Al-Mutaffifin yang disimak oleh adikku yang kelima. Yah, surah itu adalah surah terakhir yang beliau perjuangkan untuk bisa selesai Juz 'Amma. Abah bukan tidak punya hapalan sama-sekali, abah hapal beberapa ayat dibagian yang terpisah-pisah, maka saat sukses menyelesaikan JUZ amma, beliau terlihat begitu sumringah, sama sekali tidak merasa malu, padahal anaknya yang no 7 sudah melewati 'juz 'Amma' itu tepat setahun yang lalu. Ah, sumringah beliau yang sukses membuatku kembali menitikkan airmata, Betapa raut bahagia terlukis jelas diwajahnya yang mulai menua.
Kadang iseng berpikir, tidak perlulah itu, bukan hal wajib, bagiku abah sudah terlalu lelah dengan selaut kesibukannya, biarlah kami para dzurriyyatnya yang berjuang membelikan mahkota untuk beliau disurga kelak, namun ini sudah menjadi cita-cita abah, terlanjur menjadi janji suci yang dimana kami dan Allah menjadi saksi. Mungkin saja, selain status 'lelaki istimewa' yang kami sematkan padanya, abah juga ingin status istimewa dari rabbnya dengan menjadi "Ahlullah''
Yaa Allah,
mudahkan segala urusannnya
lancarkan rezkinya
beri selalu kesehatan
anugrahkan umur panjang
dan kelak sampaikan beliau pada cita-cita mulianya...
serta kumpulkan kami kembali difirdausmu yang tertinggi sebagaimana engkau telah mengumpulkan kami dibumi...
Menjelang sepertiga malam
dalam lirih dan air mata, do'a ini kukirimkan.
Allah, ku mohon, kabulkan,,,
Cairo, 01112014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar