Jumat, 09 November 2012

Potongan Episode di Negeri Kinanah


 Tertegun Q dalam perjalanan pertamaku diKota ini. Yah, Perjalanan pertama dari Bandara international Cairo menuju tempat yang aku sama sekali belum tau. Sangat Jelas, aku masih buta tentang tempat ini, kakak mediator yang menjemputkulah yang lebih tau kemana aku akan ditempatkan.
            Tertegun…
Bukan karena keindahan kota yang saat ini mobil yang kutumpangi berlari diatasnya, karena bagiku, Jakarta jauh lebih indah dari pemandangan yang sebentar lagi akan kuakrabi itu. Aku tertegun dan membisu. Menyadari ternyata aku telah jauh dari negari bagai syurga tempat bermukim semua insan yang kukasihi. Hadir silih berganti wajah mereka, hingga membuat kelopak mataku kedap kedip menahan air mata yang kapan saja bisa jatuh. Dan aku sampai pada bayangan seorang lelaki yang umurnya hamper setengah abad, lelaki kuat dan perkasa, arif dan bijaksana itu terlihat tersenyum walau aku tau ada airmata yang disembunyikannya.  Bayangannya tak mau lekang bahkan semakin Nampak  dan terus tersenyum dengan senyuman yang aku belum bisa memaknainya. Dia, orang yang sangat kukasihi, satu-satunya orang tempatku berkeluh (setelah Allah tentunya) setelah ibunda kembali kesisiNya beberapa tahun silam. Ayah…
            Air mataku tak terbendung. Biarkanlah laraku mendapatkan haknya. Wajarlah, kerinduan ini sudah menguasai jiwa dan raga,padahal belumlah genap 24 jam aku meninggalkannya. Teringat semua petuah-petuahnya diambang pintu Bandara Internasional Soe-ta menjelang safarku kenegeri kinanah ini. Terbayang cucuran keringatnya mengumpullkan keping demi keping untuk membiayaiku kesini.
            Termenung…
Termenung aku, bukan dengan topangan dagu, melainkan dengan titisan air mata. Terngiang-ngiang kata demi kata yang mengantarku masuk kedalam ruangan check in.
“ Hati-hati dijalan nak…”
“Ingat barang-barangnya…”
“Duitnya diSimpan Baik-baik..”
“Rajin belajar yah nak..”
“Jaga ibadahnya,,”
“perhatikan sholatnya,,,?
“Jaga pergaulan…”
“Pandai-pandai bawa diri dinegeri orang…”
            Deggg…
Gemetar… aku ingin membuang jauh-jauh ingatan itu. Bukan untuk mengabaikan petuahnya, tapi setidaknya aku ingin menenangkan diri sejenak. Tapi sia-sia…
Hingga akupun berpikir konyol, andaikan boleh berandai aku ingin angin kencang berdebu yang sedari tadi menampar-nampar kaca mobil yang kutumpangi, menerbangkan aku kembali kepelukan ayah, sekedar tuk mendekapnya untuk kesekia kalinya, menguatkannya, dan menghapus airmata yang sedari kemaren mungkin ditahannya. Aku ingin kembali memeluknya sekedar untuk meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Ingin mencium telapak tangannya sebagai tanda rasa terima kasih yang besarnya tak mungkin kulukis dengan selaut tinta.
Aku terus mebatin, hati meronta memanggil namanya dalam diam.
Ayah… Aku tak tahu harus berkata apalagi, yang ada hanya airmata yang terus membasahi pipi. Sedih yang tak bisa kuungkap dengan kata-kata, tiba-tiba aku gemetar, bukan karena kedinginan. Tapi sesak dada menahan isak karena aku tersadar bahwa aku disini tidak sendiri. Ada dua pengantar yang dari tadi berceloteh dan bertanya ringan padaku yang hanya kujawab dengan anggukan, menyembunyikan airmata dibalik slayer dan jilbab biru malamku.
           

Ayah…
Izinkan aku merangkaikan kata…
Walau aku tau rangakaianku tak indah…
Walau aku tau kau tak punya waktu sekedar tuk melirik rentetan kata-kata karya anakmu ini dari waktumu yang hampir tak tersisa sekedar tuk berbaring menghilangkan lelah.
Terimah kasih yang tak terhingga, atas segala pengorbananmu untukku, terus bekerja tak kenal kata lelah, mencintaiku dengan segenap cinta, mengasihiku dengan selaut kasih, melindungiku dengan segenap jiwa raga. Sejujurnya aku malu padamu ayah, diusiaku yang terus bertambah, aku belum bisa memberimu apa-apa. Bahkan, masih sering  meminta dan merengek seakan aku lupa aku sudah beranjak dewasa, selalu merasa bahwa aku masih putri kecil ayah yang apa saja kemauannya harus dipenuhi. Maafkan aku ayah, atas segala khilaf dan salahku yang membumbung layaknya kobaran api, banyak seluas samudera membentang. Doakan ananda agar bisa berhasil sesuai apa yang kau harapkan, doakan agar ananda diberi perlindungan Allah, dari segala mara bahaya yang konon katanya banyak kejadian, doakan agar ananda bisa istiqomah dari segala godaan, yang katanya sering melenakan mahasiswa kebanyakan.
            Ayah…
Jaga kesehatan yah…
Maaf aku tak lagi bisa memijat ayah seperti biasanya. Membuat teh panas atau menggosok pakaian ayah. Hanya Allah yang dapat membalas semua kebaikanmu, karena Dialah dzat yang tidak pernah meleset perhitungannya.
Ayah…
Tetaplah menjadi matahari kebanggaanku…
Walau senja sudah mulai menyapa wibawamu…

To be contonued....  




Rob’ah al-adaweah….
Dimalam penuh bintang

3 komentar: