Tertegun Q dalam perjalanan
pertamaku diKota ini. Yah, Perjalanan pertama dari Bandara international Cairo
menuju tempat yang aku sama sekali belum tau. Sangat Jelas, aku masih buta
tentang tempat ini, kakak mediator yang menjemputkulah yang lebih tau kemana
aku akan ditempatkan.
Tertegun…
Bukan karena
keindahan kota yang saat ini mobil yang kutumpangi berlari diatasnya, karena
bagiku, Jakarta jauh lebih indah dari pemandangan yang sebentar lagi akan
kuakrabi itu. Aku tertegun dan membisu. Menyadari ternyata aku telah jauh dari
negari bagai syurga tempat bermukim semua insan yang kukasihi. Hadir silih
berganti wajah mereka, hingga membuat kelopak mataku kedap kedip menahan air
mata yang kapan saja bisa jatuh. Dan aku sampai pada bayangan seorang lelaki
yang umurnya hamper setengah abad, lelaki kuat dan perkasa, arif dan bijaksana
itu terlihat tersenyum walau aku tau ada airmata yang disembunyikannya. Bayangannya tak mau lekang bahkan semakin
Nampak dan terus tersenyum dengan
senyuman yang aku belum bisa memaknainya. Dia, orang yang sangat kukasihi,
satu-satunya orang tempatku berkeluh (setelah Allah tentunya) setelah ibunda
kembali kesisiNya beberapa tahun silam. Ayah…
Air mataku tak terbendung.
Biarkanlah laraku mendapatkan haknya. Wajarlah, kerinduan ini sudah menguasai
jiwa dan raga,padahal belumlah genap 24 jam aku meninggalkannya. Teringat semua
petuah-petuahnya diambang pintu Bandara Internasional Soe-ta menjelang safarku
kenegeri kinanah ini. Terbayang cucuran keringatnya mengumpullkan keping demi
keping untuk membiayaiku kesini.
Termenung…
Termenung
aku, bukan dengan topangan dagu, melainkan dengan titisan air mata.
Terngiang-ngiang kata demi kata yang mengantarku masuk kedalam ruangan check
in.
“ Hati-hati
dijalan nak…”
“Duitnya
diSimpan Baik-baik..”
“Rajin
belajar yah nak..”
“Jaga
ibadahnya,,”
“perhatikan
sholatnya,,,?
“Jaga
pergaulan…”
“Pandai-pandai
bawa diri dinegeri orang…”
Deggg…
Gemetar… aku
ingin membuang jauh-jauh ingatan itu. Bukan untuk mengabaikan petuahnya, tapi
setidaknya aku ingin menenangkan diri sejenak. Tapi sia-sia…
Hingga
akupun berpikir konyol, andaikan boleh berandai aku ingin angin kencang berdebu
yang sedari tadi menampar-nampar kaca mobil yang kutumpangi, menerbangkan aku
kembali kepelukan ayah, sekedar tuk mendekapnya untuk kesekia kalinya,
menguatkannya, dan menghapus airmata yang sedari kemaren mungkin ditahannya.
Aku ingin kembali memeluknya sekedar untuk meyakinkan bahwa aku akan baik-baik
saja. Ingin mencium telapak tangannya sebagai tanda rasa terima kasih yang
besarnya tak mungkin kulukis dengan selaut tinta.
Aku terus mebatin, hati meronta memanggil namanya dalam diam.
Ayah… Aku
tak tahu harus berkata apalagi, yang ada hanya airmata yang terus membasahi
pipi. Sedih yang tak bisa kuungkap dengan kata-kata, tiba-tiba aku gemetar,
bukan karena kedinginan. Tapi sesak dada menahan isak karena aku tersadar bahwa
aku disini tidak sendiri. Ada dua pengantar yang dari tadi berceloteh dan
bertanya ringan padaku yang hanya kujawab dengan anggukan, menyembunyikan
airmata dibalik slayer dan jilbab biru malamku.
Ayah…
Izinkan aku
merangkaikan kata…
Walau aku
tau rangakaianku tak indah…
Walau aku
tau kau tak punya waktu sekedar tuk melirik rentetan kata-kata karya anakmu ini
dari waktumu yang hampir tak tersisa sekedar tuk berbaring menghilangkan lelah.
Terimah
kasih yang tak terhingga, atas segala pengorbananmu untukku, terus bekerja tak
kenal kata lelah, mencintaiku dengan segenap cinta, mengasihiku dengan selaut
kasih, melindungiku dengan segenap jiwa raga. Sejujurnya aku malu padamu ayah,
diusiaku yang terus bertambah, aku belum bisa memberimu apa-apa. Bahkan, masih
sering meminta dan merengek seakan aku
lupa aku sudah beranjak dewasa, selalu merasa bahwa aku masih putri kecil ayah
yang apa saja kemauannya harus dipenuhi. Maafkan aku ayah, atas segala khilaf
dan salahku yang membumbung layaknya kobaran api, banyak seluas samudera
membentang. Doakan ananda agar bisa berhasil sesuai apa yang kau harapkan,
doakan agar ananda diberi perlindungan Allah, dari segala mara bahaya yang
konon katanya banyak kejadian, doakan agar ananda bisa istiqomah dari segala
godaan, yang katanya sering melenakan mahasiswa kebanyakan.
Ayah…
Jaga
kesehatan yah…
Maaf aku tak
lagi bisa memijat ayah seperti biasanya. Membuat teh panas atau menggosok
pakaian ayah. Hanya Allah yang dapat membalas semua kebaikanmu, karena Dialah
dzat yang tidak pernah meleset perhitungannya.
Ayah…
Tetaplah
menjadi matahari kebanggaanku…
Walau senja
sudah mulai menyapa wibawamu…
To be contonued....
Dimalam penuh bintang


ditunggu lanjutannya yach,,,,
BalasHapuslanjutkan yah....
BalasHapusjust say 'wonder woman'
BalasHapus