Yah...
Mesir itu surga. Layaknya surga, disini kita bisa mendapatkan semua apa yang
kita inginkan atau dalam bahasa inggrisnya
you can find and do everything now!. Saat diIndonesia kita masih dalam
pantaun ketat ayah dan ibu. sekarang antara kita dan keduanya ada samudera luas
membentang yang menjadi pemisah, keduanya hanya bisa berinteraksi dengan kita
lewat telepon genggam, mungkin hanya sebatas bertanya kabar dan dan kelancaran
belajar. Saat diIndonesia uang jajan
dibatasi, sekarang malah dijatahkan lebih karena katanya sekolah diluar negeri,
padahal mahasiswa Al-azhar sama sekali tidak membayar uang kuliah selainn
untuk membeli muqorror. Dulu, busana yang kita pakai masih ada dalam batasan
dan aturan ma’had, sekarang pakai batasan selera yang kita suka. Berlama-lama
diluar rumah, hingga larut malam, apalag bagi seorang perempuan merupakan hal yang kurang indah
dipandang saat kita berada diNegeri
Tercinta, menjadi kebiaasaan mahasiwa diMesir dengan alasan banyak tugas,
amanah DLL.
Jaamiatul
Azhar atau universitas Al-Azhar, yang sebagian besar mahasiswa dari Indonesia
kuliah dan berkecimpung didalamnya, punya keistimeaan tersendiri dimata mereka.
Yah bagaimana tidak, karena universitas tersebut sama sekali tidak mewajibkan
mahasiwanya hadir dan duduk manis dibangku kulliah seperti
perkuliahan-perkuliahan pada umumnya yang menerapkan sistem 70% kehadiran
sebagai syarat mengikuti Ujian semester. Di Al-Azhar, asal nama terdaftar ikut ujian setiap termin yang
berlangsung 2 kali dalam setahun itu sudah cukup. Setelah ujian tinggal
menunggu pengumuman hasil ujian turun. Kalau dapat nilai yang baik minimal
jayyid katanya, sudah bisa ngurus beasiswa yang disediakan beberapa pengelola,
instansi dan donatur diMesir. Wah wah... sangat cocok dengan kebiasaan dan
karakter sebagian besar Warga negara Indonesia yang turun temurun. Pemalas. :p
Hidup
diMesir memang menyenangkan, selain kuliah, banyak kajian Masyayikh, organasiasi, kursus,
pelatihan, kajian, dan berbagai macam nama perkumpulan yang bertebaran
disana-sini. Jadilah yang gila organisasi semakin menggila, mengutip dari
kata-kata mahasiswa yang lebih senior, kebetulan penulis masih sangat baru,
saking gilanya organisasi sampai ada mahasiswa yang sampai lupa kalau namanya
itu ada dalam daftar mahasiswa Al-azhar karena kesibukannya diberbagai
organisasi, mungkin dia akan bangun dari kegilaanya saat menatap kalender dan
menyadari ternyata ujian tinggal sebulan lagi.
Beranjak dari itu semua, kita
bisa mengkategorikan Mahasiswa yang ada diMesir ini, khususnya mahasiswa
indonesia menjadi 4 kategori :
1.
Sukses
akademis, sukses organisasi
2.
Sukses
akademis gagal organisasi
3.
Sukses
organisasi gagal akademis
4.
Gagal
akademis gagal organisasi
Paling
tidak itulah beberapa bentuk mahasiswa yang bisa penulis simpulkan dari paparan
seorang ustadz yang memberi pembekalan kepada beberapa mahasiswa baru termasuk
penulis.
Setelah
beberapa lama disini, akhirnya saya buktikan sendiri, dengan melihat dan
megumpulkan fakta-fakta yang tercecer, ternyata benar adanya, 4 kategori itulah
yang sangat mewakili bentuk-bentuk mahasiwa pada umumnya. Kadang ada yang tidak
muhadlaroh kuliah selama seminggu, tapi hadir dalam berbagai macam kegiatan diluar
kuliah yang sehari bahkan bisa sampai 2 atau 3 tempat. Namun, ada juga
mahasiswa yang sama sekali tidak mau ikut serta dalam organisasi apapun (read:
kecuali yang diwajibkan) karena hanya ingin fokus kuliah dan berkutat dengan
diktat-diktat. Ada juga yang biasa-biasa
saja, kuliah yah kuliah, organisasi yah organisasi,
walhasil hidup seperti air mengalir, kemana-mana ikut mood ajha. Tapi, tidak
jarang juga kita temukan mahasiswa yang bisa dibilang mahasiswa luar biasa,
akademis mumtaaz organisasi dapat jempol.
Salah satu daya tarik tersendiri adalah
seribu satu keindahan yang ditawarkan berbagai tempat-tempat wisata yang ada
diseantero kota mesir. Yah tidak salah lagi, mesir termasuk salah satu negara
yang menjadi kiblat para wisatawan asing. Tak heran jika mesir juga mendapatkan income terbesar dari bidang wisata. Bukan hanya turis yang boleh
menikmatinya, mahasiswa juga bisa. Bahkan sudah menjadi agenda tetap sebuah
organisasi atau perkumpulan-perkumpulan untuk pergi berwisata ketempat-tempat
tertentu secara berkala.Dan sebagian mahasiswa mencoba peruntungan dengan membuat bisnis dari sektor ini.
Mesir
mengagumkan itu benar, tapi kadang kehidupan didalamnya bisa saja menjadi momok
bagi kalangan mahasiswa tertentu. selain masyarakat asli Mesir yang dermawan
dan bersikap terbuka kepada semua orang ada juga yang terbalik 180 derajat. Maka
tak jarang kita menemukan opini bahwa hidup dimesir itu kurang aman. Apalagi
bagi seoarng cewek, sangat bahaya jika keluar dan lalu lalang seorang diri
dimalam hari. Yah mungkin hanya sebagian yang berpendapat yang sama termasuk
penulis. Simpel saja, berdasarkan fakta, baru 2 bulan menginjakkan kaki di bumi
kinanah ini, sudah banyak terjadi perampokan dan penodongan yang dialami oleh
saudara kita sendiri. Penulispun pernah mengalami hal-hal yang merugikan saat
memberhentikan mobil. Ketika bertanya apakah mobil ini menuju bawwabat?.
Sisopir mengangguk, ternyata mobil berjalan kezahro’ lewat jalan belakang. Mungkin bagi mahasiswa
yang sudah makan garam itu no problem kan bisa lanjut atau ganti mobil, tapi
bagi mahasiswa baru seperti penulis, hal itu merupakan momok yang sangat
menakutkan. Selain belum paham bahasa ‘amiyah
Mesir, juga masih awam tentang daerah dan kawasan-kawasan yang ada diMesir,
apalagi saat itu,hari sudah mulai gelap.
Konon katanya, orang mesir mempunyai 2 keturunan, yang baik keturunan Nabi Musa
a.s, dan yang tidak baik keturunan raja Dzalim fir’aun la’natullah.
Mesir
dan segala apa yang didalamnya telah memanjakan mahasiswa yang bermukin
diatasnya. Namun, tetap saja fakta berbicara bahwa Mesir kadang membuat orang
putus asa. Interaksi dengan orang asli Mesir yang terkenal dengan temprement
keras berbeda dengan temprement melayu yang kemayu, pengemudi menyetir ugal-ugalan, dipermainkan oleh
‘ammu-‘ammu dan para pemuda jahil yang kadang menjadi trauma tersendiri
khususnya bagi kaum perempuan. Belum lagi perjuangan mengejar bus-bus yang
penuh sesak dengan penumpang saat berangkat kuliah jika ingin duduk dibangku paling depan.
Karena, terlambat sedikit saja, kita akan mendapat tempat paling belakang yang
sama sekali tidak bisa melihat dosen, yang ada hanya bahu-bahu kekar orang
Mesir yang postur tubuhnya jauh lebih besar dibanding postur tubuh orang Asia. Belum lagi saat antrian membeli buku, yag disediakan
hanya 2 loket, akhirnya, setiap pagi,,para mahasiswa dari berbagai Negara,
harus berlomba dan bersabar dalam penantian yang panjang, karena bisa saja 2
loketpenuh sesak dengan ratusan mahasiswa yang memiliki hajat yang sama.
Membeli muqorror. Ini yang sering penulis sakasikan dan alami selama
berdomisili diMesir.
Namun, kembali lagi ketujuan kita masing-masing.
Apa yang kamu cari disini wahai para mahasiswa?.
Jawaban ada didada masing-masing. DiMesir, sedikit saja kita lalai maka akan
terlena dengan segala macam keindahannya. Hidup disini, diri kita harus menjadi
ayah bagi diri sendiri, ibu bagi diri sendiri, anak bagi diri sendiri,dan
menjadi diri sendiri untuk diri sendiri, jadi harus menegur dan
mengintropeksi diri sendiri, jika tidak seperti ini, maka kita akan terlena dan larut dalam
hal-hal melalaikan. Maunya seenak gue, kemanapun melancong, intinya hati
senang, lambat laun kita akan lupa tujuan dan kewajiban kita sebagai pelajar,
anak dan kholifah dimuka bumi ini.
Itulah
Kehidupan sebagian mahasiswa Indonesia diMesir. Kadang indah bak surga, suatu
waktu bisa saja menjelma menjadi neraka,
yah seperti rumus keidupan pada umumnya. Mungkin saja Ini
hanya sketsa, belum gambaran nyata, karena penulis menggambarkan apa yang biasa
terlihat dan tampak dalam beberapa lama menginjakkan kaki dinegeri para nabi.
Rob'ah Al-adaweah
rasanya seperti saya juga mau nulis seperti ini la
BalasHapuspaling tidak!
menulislah ust....
BalasHapus