Sabtu, 10 November 2012

Warna Kehidupan di Bumi Para Nabi



Melanjutkan study ke Mesir, mungkin salah satu tujuan  para alumni podok pesantren diIndonesia pada kuhususnya dan sebagian besar alumni MAN ataupun sekolah Menegah Atas  pada umumnya. Itu dibuktikan dari persentase kedatangan mahasiswa baru dari  Asia tenggara khususnya dari Indonesia meningkat signifikan setiap tahunnya. Sederhana saja alasannya, karena Mesir punya daya tarik tersendiri dimata anak-anak Indonesia.  Selain disana berdiri kokoh Universitas yang konon katanya merupakan universitas tertua didunia yang dibangun sekitar 1042 tahun silam menurunt hitungan kalender Masehi, tetek bengek kepengurusan untuk menuntut ilmu di negeri seribu menara itu lumayan mudah, tinggal ikut Test seleksi, jika sudah dinyatakan lulus tinggal siapkan uang tiket dan saku secukupnya. Dilain sisi, biaya hidup di Mesir relatif murah, jika dihitung-hitung pengeluaran perbulan tidak jauh beda dari pengeluaran jika kita kuliah diIndonesia, bahkan bisa jadi jauh lebih murah.

Yah... Mesir itu surga. Layaknya surga, disini kita bisa mendapatkan semua apa yang kita inginkan atau dalam bahasa inggrisnya  you can find and do everything now!. Saat diIndonesia kita masih dalam pantaun ketat ayah dan ibu. sekarang antara kita dan keduanya ada samudera luas membentang yang menjadi pemisah, keduanya hanya bisa berinteraksi dengan kita lewat telepon genggam, mungkin hanya sebatas bertanya kabar dan dan kelancaran belajar. Saat diIndonesia uang  jajan dibatasi, sekarang malah dijatahkan lebih karena katanya sekolah diluar negeri, padahal  mahasiswa Al-azhar  sama sekali tidak membayar uang kuliah selainn untuk membeli muqorror. Dulu, busana yang kita pakai masih ada dalam batasan dan aturan ma’had, sekarang pakai batasan selera yang kita suka. Berlama-lama diluar rumah, hingga larut malam, apalag bagi seorang  perempuan merupakan hal yang kurang indah dipandang  saat kita berada diNegeri Tercinta, menjadi kebiaasaan mahasiwa diMesir dengan alasan banyak tugas, amanah DLL.

Jaamiatul Azhar atau universitas Al-Azhar, yang sebagian besar mahasiswa dari Indonesia kuliah dan berkecimpung didalamnya, punya keistimeaan tersendiri dimata mereka. Yah bagaimana tidak, karena universitas tersebut sama sekali tidak mewajibkan mahasiwanya hadir dan duduk manis dibangku kulliah seperti perkuliahan-perkuliahan pada umumnya yang menerapkan sistem 70% kehadiran sebagai syarat mengikuti Ujian semester. Di Al-Azhar,  asal nama terdaftar ikut ujian setiap termin yang berlangsung 2 kali dalam setahun itu sudah cukup. Setelah ujian tinggal menunggu pengumuman hasil ujian turun. Kalau dapat nilai yang baik minimal jayyid katanya, sudah bisa ngurus beasiswa yang disediakan beberapa pengelola, instansi dan donatur diMesir. Wah wah... sangat cocok dengan kebiasaan dan karakter sebagian besar Warga negara Indonesia yang turun temurun. Pemalas. :p

Hidup diMesir memang menyenangkan, selain kuliah, banyak kajian Masyayikh, organasiasi, kursus, pelatihan, kajian, dan berbagai macam nama perkumpulan yang bertebaran disana-sini. Jadilah yang gila organisasi semakin menggila, mengutip dari kata-kata mahasiswa yang lebih senior, kebetulan penulis masih sangat baru, saking gilanya organisasi sampai ada mahasiswa yang sampai lupa kalau namanya itu ada dalam daftar mahasiswa Al-azhar karena kesibukannya diberbagai organisasi, mungkin dia akan bangun dari kegilaanya saat menatap kalender dan menyadari ternyata ujian tinggal sebulan lagi. 

Beranjak dari itu semua, kita bisa mengkategorikan Mahasiswa yang ada diMesir ini, khususnya mahasiswa indonesia menjadi 4 kategori :

1.      Sukses akademis, sukses organisasi
2.      Sukses akademis gagal organisasi
3.      Sukses organisasi gagal akademis
4.      Gagal akademis gagal organisasi

Paling tidak itulah beberapa bentuk mahasiswa yang bisa penulis simpulkan dari paparan seorang ustadz yang memberi pembekalan kepada beberapa mahasiswa baru termasuk penulis. 
Setelah beberapa lama disini, akhirnya saya buktikan sendiri, dengan melihat dan megumpulkan fakta-fakta yang tercecer, ternyata benar adanya, 4 kategori itulah yang sangat mewakili bentuk-bentuk mahasiwa pada umumnya. Kadang ada yang tidak muhadlaroh kuliah selama seminggu, tapi hadir dalam berbagai macam kegiatan diluar kuliah yang sehari bahkan bisa sampai 2 atau 3 tempat. Namun, ada juga mahasiswa yang sama sekali tidak mau ikut serta dalam organisasi apapun (read: kecuali yang diwajibkan) karena hanya ingin fokus kuliah dan berkutat dengan diktat-diktat. Ada juga yang  biasa-biasa saja, kuliah yah kuliah, organisasi yah organisasi, walhasil hidup seperti air mengalir, kemana-mana ikut mood ajha. Tapi, tidak jarang juga kita temukan mahasiswa yang bisa dibilang mahasiswa luar biasa, akademis mumtaaz organisasi dapat jempol.  
    
   Salah satu daya tarik tersendiri adalah seribu satu keindahan yang ditawarkan berbagai tempat-tempat wisata yang ada diseantero kota mesir. Yah tidak salah lagi, mesir termasuk salah satu negara yang menjadi kiblat para wisatawan asing. Tak heran jika mesir  juga mendapatkan income terbesar dari bidang wisata. Bukan hanya turis yang boleh menikmatinya, mahasiswa juga bisa. Bahkan sudah menjadi agenda tetap sebuah organisasi atau perkumpulan-perkumpulan untuk pergi berwisata ketempat-tempat tertentu secara berkala.Dan sebagian mahasiswa mencoba peruntungan dengan membuat bisnis dari sektor ini.

Mesir mengagumkan itu benar, tapi kadang kehidupan didalamnya bisa saja menjadi momok bagi kalangan mahasiswa tertentu. selain masyarakat asli Mesir yang dermawan dan bersikap terbuka kepada semua orang ada juga yang terbalik 180 derajat. Maka tak jarang kita menemukan opini bahwa hidup dimesir itu kurang aman. Apalagi bagi seoarng cewek, sangat bahaya jika keluar dan lalu lalang seorang diri dimalam hari. Yah mungkin hanya sebagian yang berpendapat yang sama termasuk penulis. Simpel saja, berdasarkan fakta, baru 2 bulan menginjakkan kaki di bumi kinanah ini, sudah banyak terjadi perampokan dan penodongan yang dialami oleh saudara kita sendiri. Penulispun pernah mengalami hal-hal yang merugikan saat memberhentikan mobil. Ketika bertanya apakah mobil ini menuju bawwabat?. Sisopir mengangguk, ternyata mobil berjalan kezahro’ lewat jalan belakang. Mungkin bagi mahasiswa yang sudah makan garam itu no problem kan bisa lanjut atau ganti mobil, tapi bagi mahasiswa baru seperti penulis, hal itu merupakan momok yang sangat menakutkan. Selain belum paham bahasa ‘amiyah Mesir, juga masih awam tentang daerah dan kawasan-kawasan yang ada diMesir, apalagi saat itu,hari sudah mulai gelap. Konon katanya, orang mesir mempunyai 2 keturunan, yang baik keturunan Nabi Musa a.s, dan yang tidak baik keturunan raja Dzalim fir’aun la’natullah.

Mesir dan segala apa yang didalamnya telah memanjakan mahasiswa yang bermukin diatasnya. Namun, tetap saja fakta berbicara bahwa Mesir kadang membuat orang putus asa. Interaksi dengan orang asli Mesir yang terkenal dengan temprement keras berbeda dengan temprement melayu yang kemayu, pengemudi  menyetir ugal-ugalan, dipermainkan oleh ‘ammu-‘ammu dan para pemuda jahil yang kadang menjadi trauma tersendiri khususnya bagi kaum perempuan. Belum lagi perjuangan mengejar bus-bus yang penuh sesak dengan penumpang saat berangkat kuliah  jika ingin duduk dibangku paling depan. Karena, terlambat sedikit saja, kita akan mendapat tempat paling belakang yang sama sekali tidak bisa melihat dosen, yang ada hanya bahu-bahu kekar orang Mesir yang postur tubuhnya jauh lebih besar dibanding postur tubuh orang Asia. Belum lagi saat antrian membeli buku, yag disediakan hanya 2 loket, akhirnya, setiap pagi,,para mahasiswa dari berbagai Negara, harus berlomba dan bersabar dalam penantian yang panjang, karena bisa saja 2 loketpenuh sesak dengan ratusan mahasiswa yang memiliki hajat yang sama. Membeli muqorror. Ini yang sering penulis sakasikan dan alami selama berdomisili diMesir.

Namun, kembali lagi ketujuan kita masing-masing.
Apa yang kamu cari disini wahai para mahasiswa?. Jawaban ada didada masing-masing. DiMesir, sedikit saja kita lalai maka akan terlena dengan segala macam keindahannya. Hidup disini, diri kita harus menjadi ayah bagi diri sendiri, ibu bagi diri sendiri, anak bagi diri sendiri,dan menjadi diri sendiri untuk diri sendiri, jadi harus menegur dan mengintropeksi diri sendiri, jika tidak seperti ini,  maka kita akan terlena dan larut dalam hal-hal melalaikan. Maunya seenak gue, kemanapun melancong, intinya hati senang, lambat laun kita akan lupa tujuan dan kewajiban kita sebagai pelajar, anak dan kholifah dimuka bumi ini.
Itulah Kehidupan sebagian mahasiswa Indonesia diMesir. Kadang indah bak surga, suatu waktu bisa saja menjelma menjadi neraka, yah seperti rumus keidupan pada umumnya. Mungkin saja  Ini hanya sketsa, belum gambaran nyata, karena penulis menggambarkan apa yang biasa terlihat dan tampak dalam beberapa lama menginjakkan kaki dinegeri para nabi.

Rob'ah Al-adaweah
Di keemasan Senja

2 komentar: