Sabtu, 03 November 2018

Ibrah dari peristiwa jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610 - PK LPQ


Belum hilang duka atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Palu sulawesi Tengah. Kala bagian bumi indah itu porak poranda oleh gempa dan tsunami yang menerjang, kini kita dikejutkan oleh kabar duka jatuhnya pesawat lion air .
Saya teringat kisah saat gempa di palu, tentanh penerbangan terakhir pesawat Batik air yang katanya kebetulan take off lebih cepat dari waktu terjadwal. Sesaat setelah ia lepas landas terjadi guncangan hebat yang merusak beberapa bagian bandara termasuk aspal juga kabin tower ATC tempat seorang wakil airnav bertugas yang turut menjadi korban gempa. Kabarnya petugas itu sempat memastikan agar penerbangan Batik air berjalan lancar. Pilot, kru dan semua penumpang selamat dari guncangan hebat tersebut dan terbang dengan tenangnya sedang dibawah sana bumi sedang berguncang hebat dan luluh lantah dihantam gelombang air.
Beda halnya dengan sony setiawan, calon penumpang lion air JT 610 tersebut terjebak macet parah dalam perjalannaya ke bandara, subuh senin kemarin. Ia tiba dibandara ketika pesawat yang sedianya akan ditumpangi telah lepas landas yang membuatnya harus membeli tiket penerbangan baru di jadwal berikutnya.
Saat menunggu penerbangan selanjutnya betapa kagetnya ia saat mendengar berita kecelakaan yang menimpa pesawat JT 610. Sedikit syok karena 6 teman sekantornya ada dalam penerbangan tersebut sekaligus terperanjat karena menyadari ia hampir saja ikut dalam penerbangan tersebut.
Sekilas seperti kebetulan-kebetulan.
Namun sejatinya tidak ada kebetulan dalam kehidupan ini. Bahkan setiap daun yang gugur ada didalam kehendakNya, apalagi urusan nyawa manusia.
Peristiwa selalu membawa pelajaran berharga bagi mereka yang berpikir. Alquran menyuruh kita berjalan dimuka bumi ini dan ambil pelajaran yang bisa kita petik dari setiap peristiwa yang terjadi.
Salah satu pelajaran amat mahal dari sebuah peristiwa belakangan ini, Kita tidak pernah tau dimana dan dalam keadaan apa nafas ini terhenti. Olehnya senantiasa perbaiki niat, ikhlas dalam beramal, dan dekap iman jauh kedasar sanubari agar ketika waktunya tiba kita menutup mata bersama iman didada.
Setiap kali dengar musibah jatuhnya pesawat, jadi ikutan was-was. Sebagai keluarga perantauan kami memang kerap mengggunakan jasa penerbangan. Bahkan ipar dan ayahku sendiri terbilang punya jam terbang cukup tinggi.
Tapi Sesaat berpikir, apakah kemudian ketika kita tidak naik pesawat aman dari yang namanya musibah dan kematian?
Atau apakah saat memilih naik kapal laut pasti aman, atau cari aman naik kendaraan darat sajalah?
Sama sekali tidak,
Nyatanya penerbangan Batik air (atas idzin Allah) menyelamatkan semua penumpangnya dari ancaman gempa dan tsunami justru saat ia sedang terbang.
Sebaliknya tanah di Palu begitu kuat menggulung dan menenggelamkan bangunan dan semua makhluk yang ada diatasanya sekalipun mereka sedang berjalan diatas tanah yang dianggap bisu.
Satu hal lagi yang membuat berpikir,
Pesawat lion air JT 610 adalah pesawat yang baru beropasi bulan Agustus lalu dengan spesifikasi lebih canggih dari pesawat-pesawat lion air yang sudah beropasi bertahun-tahun.
Setidaknya memberi pelajaran bahwa kecanggihan tidak bisa mengalahkan kekuatan takdir sekaligus Memberi peringatan bahwa Usia muda tidak menjamin kita masih akan hidup baik-baik saja beberapa tahun kemudian.
Dalam dunia kedokteran, setinggi apapun karir seorang dokter, dalam situasi tertentu dia mungkin tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien sekalipun anaknya sendiri.
Teringat 2 minggu yang lalu, seorang remaja di Malaysia hanyut terbawa arus sungai. Saat proses evakusai, qaddarollah 6 anggota penyelamat ikut terbawa arus dan semuanya meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Inilah kita, manusia dengan segala keterbatasannya. kecanggihan yang manusia ciptkakan punya batasnya, kepakaran yang manusia punya ada batasnya, keahlian yang manusia terlatih denhgnya juga ada batasnya, sehingga dalam satu kondisi seorang penyelam handal bisa saja meninggal dunia didalam air. Yah, dalam satu keadaan kepakaran seseorang tidak bisa menolong siapapum bahkan dirinya sendiri.
Tidak ada tempat bergantung yang sempurna kecuali padaNya.
Tidak ada tempat paling aman untuk berlari kecuali menujuNya.
Semoga setiap langkah kaki kita ada dalam jalan yang diridho OlehNya..
Fafirruu ilallaah... Berlarilah kepada Allah...
Qul huwallahu ahad. Allahu as-samad.
Katakanlah Allah itu satu. Allah tempat bergantung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar