Kamis, 12 November 2015

Karena Wanita Wajib Belajar

"Sejenak menutup diktat kuliah, semangat sdg maju mundur, padahal ujian diambang pintu,
Iseng2 nulis sesuatu, smg bisa menjadi pemicu kembalinya semangat belajar saya"
Kalo' dalam diktat kuliah saya , ada kata2 "menjawab syubhat"
maka tulisan saya kali ini:
____Menjawab Mitos____
"Kalau perempuan itu, gak usah sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya masuk dapur"
Ini, Hanya salah satu dari sekian banyak semboyan sesat, yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Pertama:
Dibantah dengan dzohirnya sabda Nabi SAW yang berbunyi,
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim"
Dalam riwayat lain "... Dan muslimah".
Kewajiban menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan itu sama, hanya mungkin ada adab2 dan syarat tertentu serta batas2 yang harus diperhatikan bagi perempuan, tapi semua itu tidak akan merubah hukumnya dari wajib menjadi apapun.
Kedua:
Dibantah dengan sejarah, sepanjang sejarah peradaban islam,
Tidak ada sebaitpun,
Yg pernah membatasi langkah perempuan untuk menuntut ilmu... Dalam bidang apa saja...
Tercatat Ummul Mukminin 'Aisyah RA, ada diurutan ke empat, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits,
Beliau menyampaikan hadits kepada para sahabat dan mengambil hadits dari mereka,
Menjadi rujukan dalam berbagai permasalahan agama, bahkan beliau menjadi pembenar daripada fatwa2 sahabat yang disinyalir tidak benar,
Beliau mengajar dan mendidik sahabat dan tabi'in,
Sejarah mencatat beberapa ulama fiqih dan hadits lahir dari tangannya,
Baik dari kaum laki-laki maupun perempuan.
Anak perempuan Dari seorang sahabat Haritsah bin Nu'man pernah berkata:
"Tidaklah aku menghafal surat Qof secara sempurna, kecuali aku mendengarnya langsung dari mulut Rasulullah ketika beliau khutbah (Jum'at)"
Hadits ini memberi kita isyarat,
Bahwa perempuan (Pada masa Nabi) itu belajar,
Perempuan itu menghadiri majelis ilmu, perempuan itu tidak hanya tinggal diam dirumah (Ketika semua kewajiban dirumah sudah ditunaikan).
Beralih kebidang lain,
Kita bukan orang buta sejarah, atau dengan bahasa kasar, kita bukan pemakan sejarah gemilang agama islam (red :melupakannya).
Paling tidak, kita tidak lupa dengan ibu kedokteran kita,
Rufaidah Bintu Sa'ad.
Beliau belajar ilmu medis dari ayahnya sendiri, lalu mengajarkannya kepada perempuan-perempuan Madinah,
Mendirikan klinik didepan masjid Nabawi, tempat berobat kaum muslimin. Bahkan beliau dan kawan-kawannya berkontribusi dalam beberapa peperangan kaum muslimin, untuk mengobati para mujahidin yang terluka didalam tenda-tenda darurat.
Bagi yang mengatakan masak, mencuci, menyapu dll adalah kewajiban mutlaq bagi seorang wanita, maka mari kita merujuk pada kisah Umar Bin Khattab,seorang khalifah tegas dan perkasa,disegani oleh siapapun, tiba-tiba tertunduk tak bergeming tatkala dimarahi oleh istrinya,
Saat seseorang bertanya mengenai fenomena langka tersebut,
Umar dengan sigap menjawab
"Bagaimana mungkin aku membalas (Marahnya), Saat dia telah memasak untukku padahal itu bukan kewajiban baginya,
Dia telah mencucikan pakaianku padahal itu bukan kewajiban baginya".
(Adapun masalah pembagaian tugas dalan rumah tangga, gak bisa dibahas disini, silahkan mengikuti seminar2 i'daduz zawaaj yg ada disekitar anda :D)
Ketiga:
Tuntutan zaman,
Yang menuntut terciptanya peradaban islam yang gemilang.
Rasanya lagi,
Kita ummat yang mendengar dan membaca,
Rasanya sebuah hal pasti
bait-bait syi'ir berikut tak mungkin luput dari telinga atau mata kita.
"Ibu itu sekolah (pertama)
Jika kamu mempersiapkannya dengan baik
Sesungguhnya kamu sedang merancang sebuah generasi yang tangguh"
Karena anak manusia, dititip dirahim wanita, lahir dan tumbuh dalam pelukan wanita, tumbuh dan beranjak dewasa dalam asuhan wanita sebelum segalanya, hingga ketika bekal sdh cukup untuk ia keluar dari rumah dan meninggalkan sekolah pertamanya
Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan:
"Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir"...
Nah lohh...
Lagi-lagi disuruh belajar jauh-jauh hari, ini hanya makna yang tersirat dari cuplikan hadits diatas, adapun penjabarannya,
Lagi-lagi saya hanya bisa bilang
"dapatkan dalam seminar i'daduz zawaaj ditempat terdekat" tongue emoticon
Yah singkat...
Ketika Ibu (Perempuan) diibaratkan sekolah,
Sekolah adalah tempat ilmiyyah,
Tidak ada didalamnya kecuali ilmu dan ilmu,
Maka sudah seharusnya
Ibu juga harus berilmu,
Bagaimana mungkin sekolah berdiri jika nahkodanya sindiri tak berilmu.
Dalam hal ini
Berlaku rumus sebab-akibat
Ibu itu sekolah,
Ketika sekolahnya baik
Alumnusnya juga baik,
Para alumni inilah yang akan melanjutkan tali estafet perjuangan selanjutnya,
Sebaliknya, jika sekolahnya gak baik,
Gak kebayang gimana alumnusnya tuh...?
Belajar lagi, belajar terus, belajar sampai mati,
begitulah agama kita mensyari'atkan belajar.
Belajar gak sebatas sekolah, gak sesempit ruang kuliah,
Belajar itu dimana saja dgn siapa saja dan terlebih kapan saja.
اطلب العلم مم المهد الي اللهد...
*Study is Never finish... (gitu kali yah bahasanya.... smile emoticon )
__End__
Nb: Ini hanya coretan ringan,
Memadukan apa yg sy dgr dr majelis2 ilmu, muhadoroh kuliah, bacaan2 yg smpt terbaca,
Tanpa sumber, jadi jika banyak salah, ahlan, dibenarkan) grin emoticon
Next..
Back to Diktat.... grin emoticon
Kembali semangat......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar