Rabu, 07 November 2018

Antara Mesir dan Malaysia

Mesir dan Malaysia, 2  negara yang kuhuni hampir 6 tahun terakhir. 
Dua negara dengan Abjad pertama yang sama huruf M, dan ibu kotanya juga dimulai dengan huruf yang sama.
Kuala Lumpur dan Kairo.
Dua Negara dengan pendatang terbanyak di dunia.
Entah untuk bekerja, sekolah atau kedua-duanya seperti yang kulakoni sekarang ini.
Diantara seabrek kesamaan
ada perbedaan yang sangat menterang.
#Mesir yang kenyataannya jauh menyebrangi samudera tapi cost hidup sangat-sangat bersahabat alias murah meriah.
#Malaysia walau negara tetangga,
tapi maju dalam segala aspek, kabarnya, sistem transportasinya termasuk yang terbaik didunia. Begitu juga instansi-instansi pendidikan bertaraf internasional yang menjamur di negeri ini dan nilai mata uangnya kurang bersahabat dengan mata uang kita dalam artian kursnya yang tinggi.
Itulah sebagian realita yang menjadi asbab hidup dinegara ini tidak murah bagi kebanyakan orang termasuk saya pribadi.
Terjawab sudah mengapa kawan-kawan Malaysia saya DiMesir dulu selera hidupnya agak diatas, sewa rumah model apartemen, pulang pergi kuliah naik taksi, makannya suka delivery. Yay... ternyata mata uang mereka tinggi Juga untuk ukuran Junaihah Mesir. 😇
_Me Now_
Euforia yang juga berbeda
Dulu dimesir saya berstatus mahasiswa
Alhamdulillah kuliah gratis plus bisa dapat beasiswa yang mengalir selama disana, juga hadiah-hadiah kalau berprestasi, belum dari para muhsinin yang hampir tiap bulan ada yang ngasih atau uang saku dari asrama, sampe uang tiket pulang disediakan. Alhamdulillah bisa sampai nabung dan jalan-jalan bahkan sempat umroh dari uang tabungan .
Alhamdulillah...
Semoga Allah membalas kebaikan2 mereka semua dengan surga. Amin.. 😭😭
#kangenKairopakebanget
Sekarang kudisini dinegeri Upin Ipin menemani seorang mahasiswa yang membiayai dirinya sendiri dengan iuran kuliah yang fantastis.
juga biaya hidup yang cukup membuat kita menelan ludah.
Pagi buta siap-siap kerja
pulang sore langsung kuliah.
Dan malam.....
Istirahat..??
Noooo guyss...
Dia begadang kerjain tugas kuliah yang menumpuk, terkadang tertidur duduk dimeja belajarnya. Kemudian besok mengulang hal yang sama. huaaa...
Kadang saya geleng-geleng kepala sambil berdoa semoga Allah kuatkan raga dan hatinya sang kekasih tercinta.
Yang menyenangkan karena Kita gak sendiri, banyak sekali teman-teman dengan kisah perjuangan yang sama.
Melihat semangat-semangat mereka membuat semangat kami ikut berkobar.
Beginilah mekanisme waktu bergulir
menjadikan ritme kehidupan indah dikenang dan sedap-sedap masam untuk dijalani.
Dulu dimesir tiap bulan tinggal tunggu beasiswa turun sekarang ikut merasakan perjuangan suami bekerja demi menunggu gaji turun
untuk membeli sesuap nasi, menafkahi anak istrinya atau membayar satu subjek kuliah yg harganya bisa sampai 3 juta. hehe...
Fighting...
Jalan ini menuju Surga.
seperti kata Rasulullah,
"Barang siapa yang keluar mencari ilmu, Allah akan mudahkan Jalannya menuju Surga".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar