Rabu, 07 November 2018

Antara kaya harta dan kaya hati


Harga pangan mencekik
Beberapa waktu lalu Emak-emak bertindak agresif sampai buat demo turunkan harga sembako.
Dalam panas dahaga sambil memukul bakul dan kuali minta keadilan harga untuk kaum kecil,
sebagian kaum elit nyinyir sedikit menyakitkan. Berlalu lalang diberanda membahas harga pangan dari kacamata ketuhanan. Mereka bilang rezeki dari Allah, jadi kalau harga naik tidak usah terlalu lebay, rezeki tinggal dicari kecuali kalau kalian malas.
Setengah paragraf aku setuju
setengah bagian lain skak tanpa syarat.
Karena kaya dan miskin bagian dari sunnatullah, banyak orang berusaha mati-matian tapi hidupnya tidak kunjung baik.
Kita katakan itu ujian tanpa harus nyinyir apalagi melabeli orang malas atau gak tau cari uang.
Dan maha baiknya Allah,
Tidak membiarkan kaum du'afa dengan keadaannya begitu saja,
ada zakat yang disyariatkan untuk kita membantu mereka. Singkatnya keadaan mereka menjadi lahan pahala bagi kita yang mampu dari segi ekonomi.
Sudahlah...
Kaya harta memang tak menjamin kaya hati. Terkadang malah menutup mata dan hati dengan keadaan sekitar.
Aku tidak begitu fanatik masalah politik
tapi salut dengan cawapres yang kaya raya hartanya triliunan tapi masih peduli dengan harga pangan. kalau mau ditilik, berapa sih harga pangan jika dikalkulasikan dengan kekayaannya,
mungkin gak ada harganya.
Tapi dia mungkin dan bagiku lebih baik,
karena kaya hati dan peduli orang kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar