Senin, 02 November 2015

_Secarik Sejarah para Cahaya_


Tahun ke-2 Hijriyah,
Satu cahaya bernama Ruqayyah,
Diuji dengan sakit keras.
Sakit yang mengantarnya menuju sakarotul maut.
Pada saat yang sama,
Api badar sesaat lagi berkobar.
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam begitu iba melihat keadaan sang cahaya.
Sedih pastinya, namun kewajiban sebagai panglima
Takkan pernah ditinggalkannya dengan alasan apapun.
Dengan gagah berani dan ikhlas tak bercela beliau meninggalkan sang cahaya bersama belahan jiwa pemilik dua cahaya, Usman Bin Affan.
Seorang menantu pilihan,
Diminta Mertua menemani detik-detik terakhir satu cahaya.
Satu cahaya berpulang,
Saat euforia kemenangan kaum muslimin menggema.
Begitulah skenario sang Kuasa,
Mencipta segala rasa dimasing2 kondisi yang berbeda.
Berbahagia atas anugrah
Bersedih sekedarnya atas ujian-ujian yang menimpa.
Ditahun yang sama,
Satu cahaya dipinang seorang panglima.
Hanya berbekal baju besi, Ali Bin Abi Thalib resmi menjadi ahlul bait rasulullah.
Kisah cinta yang selalu membuat merona
Sungguh menjaga hati adalah cara mencintai paling indah.
Betapa beruntungnya kau wahai Ali, peminang salah satu wanita terbaik dunia dan surga.
Setelah beberapa bulan kepergian Ruqayyah,
Allah menghendaki satu cahaya menjadi belahan jiwa sang pemilik duka.
Rasulullah menikahkan Ummu Kultsum dengan Usman Bin Affan.
Bahagia untukmu,
Wahai sang pemilik dua cahaya.
Dan solawat bagimu
Wahai pemilik semua cahaya.
Hidup, mati, jodoh
Kalah dan menang
Menangis tertawa
Semua hal biasa
Datang silih berganti pada masanya
Perjalanan hidup terjadi alamiyah
Kita hanya tak boleh terlalu larut didalamnya
Sebagaimana baginda mencontohkannya
Kita hanya perlu melakukan APAPUN yang medekatkan kita pada Allah dalam keadaan apapun. Itu saja.
Apalah arti segalanya tanpa RidhoNya.
Wahai Allah...
Kuatkan kami untuk berjalan diatas jalan para cahaya.
Cairo, Jum'at Mubaarokah yaa Ahlallah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar