Senin, 02 November 2015

=>Jum'at Yang Membiru<= (Saat kami mengenangmu, ibu)

Pagi kemarin,

Sebuah pesan masuk ke akun WA-ku,
Rupanya dari sibungsu.
Hanya, sepatah kata saja, “Kangen…”
Cepat kuhubungi no-nya, kebetulan lagi ada pulsa buat nelpon lintas Negara.
Alhamdulillah, bisa lagi mendengar suaraku sendiri menggema dari jauh sana.
Orang2 mengatakan suara kami kembar,
Bahkan orang tua sendiri susah membedakannya ketika kami lagi on Air.
Bercerita panjang lebar, semua hal menjadi pembahasan, kegiatan dari bangun tidur hingga tidur kembali tak luput menjadi penggalan kisah. Adikku,memiliki pribadi yang sangat tertutup,
Segala hal yg biasa2 saja apalagi yang sifatnya rahasia jarang ia bagi, kecuali dengan kakaknya sendiri, aku.
Tak terasa 2 Euro pulsa habis, saat masih banyak yang ingin kami sampaikan.
Memilih untuk melanjutkannya via whatsapp saja…
Segalanya masih biasa, hingga satu pesannya masuk yang membuat segalanya berubah.
“K, aku mau tau banyak dong tentang ummi (Almarhumah), sedikit aja yang aku tau, itupun dari orang-orang” tulisnya.

****
Deggg…
Sesaat terdiam setelah membaca rangkaian pertanyaannya. Berusaha menahan Kristal didua mata dan isak yang menyesakkan dada. 
Aku tak tau dengan apa harus memaknai ‘tanya’nya. Rindu akan sosok beliau, atau sedang mencari figur dalam menjalani komplikasi kehidupannya yang baru saja beranjak dewasa.
Selama ini tak pernah kubagi apapun tentang wanita yang melahirkannya, bukan tidak mau, hanya saja aku tak pernah kuat, 
membagi keorang lain saja, butuh perjuangan luar biasa, apatah lagi harus berbagi kepada adik sendiri, yang belum lagi genap usianya tiga tahun kala wanita itu pergi.

Pertahananku akhirnya jebol, butuh berkali2 menghapus airmata, sekedar untuk memulai sata kata yang menggambarkan tentangnya. Harus berkali-kali mengusap dada yang mulai sesak, untuk mayakinkan diri menjawab tanyanya, akhirnya mengalirlah kata-kata beriring mengalirnya airmata.
‪#‎Ummi‬ adalah wanita yang sangat cerdas,( begitulah yang kudapat dari keluarga, kerabat dan orang-orang yang menjumpainya)
#Ummi adalah wanita kuat lagi sangat sabar yang diuji Allah dengan sebuah penyakit, (begitulah kata mereka dan sebagaimana yang kusaksikan sendiri)
Tapi kita harus bersyukur, dalam keadaan sakit,
Ummi masih mengizinkan kita berempat menumpang didalam rahimnya
Dan ikhlas melahirkan kita walau harus berkorban darah dan airmata bahagia
Hingga anak keempat, yang Allah tidak mengizinkan ia hidup,
Berpulang dihari lahirnya, bersamaan dengan berpulangnya ummi kita tercinta…
Syahidah insya Allah… Amin…

Tentang #ummi, kisaran sebulan menjelang kepergiannya…
(Bagian yang paling manguras airmata)
Dalam keadaan berjuang melawan sakit
Dalam keadaan hamil anak yang keempat
Dalam keadaan medan amanah yang masih sangat tertinggal
Dalam keadaan ummi tak lagi bisa meluruskan badannya saat berbaring
Harus menumpuk empat bantal tempatnya bersandar hingga pagi menjelang
Dalam keadaan beliau butuh orang yang memapah saat berjalan 
Atau sekedar memegang dinding rumah agar bisa sampai kekamar mandi
(Menyaksikan semua ini, adalah hal terpahit dalam kisah hidup yang kupunya)
Dalam keadaan itu, ummi masih memasak untuk suami dan tiga permata hati
Ummi masih berjalan mengitari asrama,
Menemui dan bercengkarama dengan para santri
Ummi masih bisa menjadi makmum dibelakang abah saat solat berjama’ah 
Walau keadaan tak lagi mengizinkan ummi untuk solat berdiri
(saat itu, aku adalah makmum abah yang paling tinggi…)
Semua itu,
Ummi lewati dengan senyum dan sabar
Ikhlas menjalankan setiap titah yang telah digariskan tuhan
Tanpa setitik keluh dan sepercik kesah…

Maka bersyukurlah, adikuu…
Kalian berdua (Kau dan kakak laki-lakimu) mewarisi kecerdasannya
Allah tak menghendaki kita bertiga mewarisi penyakitnya
Disaat jika Allah berkehendak, apa yang tidak bisa bagi_Nya
Dari sini kita bisa belajar bersyukur adikku,
Apa pantas kita mengeluhkan keadaan kita sekarang
Yang diberi kesehatan
Yang diberi kekuatan
Yang diberi kecukupan
Yang masih diberi kesempatan dan waktu luang,
Ummi , abah, bahkan kehidupan tidak pernah mengajarkan kita untuk kufur nikmat bukan?

#Ummi mungkin tak bisa melihat kita lama
Tak menemani kita beranjak dewasa
Tapi, semua tentang beliau melalui lisan orang-orang
Cukup menjadi wasilah beliau mendidik kita
Untuk menjadi orang yang baik lagi berguna
Untuk meninggalkan jejak kebaikan disetiap tanah yg kita pijak
Untuk menghargai waktu karena hidup ini singkat.
dan terpenting,mengajarkan kita bahwa:
apa yang kita lakukan sekarang
begitulah kita akan dikenang,,,,!
Lagi2 kembali bersyukur,
Ummi bukan manusia sempurna,
tapi tidak pernah hal yang tidak baik yang kita dengar tentangnya
Bersyukur karena Allah mungkin telah menutup aibnya.

Allahumma'rhamhaa waj'al jannata matswaahaa.... walahal faatihah...
Untuk dua adikku yang luar biasa Kasyful Anwar dan Musyarrofah
Terus ukir prestasi, dan buat kami bangga... Terima kasih telah sempat hadir untuk menemani dan melengkapi kekurangan kakakmu ini...
kalian dan abah, adalah alasan airmata syukurku sll jatuh.

Fabi ayyi alaaa irobbikumaa tukadzdzibaan...
Semuanya telah terlewati,
Allah telah mengirimkan seorang wanita yang tak kalah mulia yang ikhlas menjadi ibu kita, sekaligus mengganti adik kita yang tak sempat melihat dunia, dengan adik2 baru melalui rahimnya...
Semua ini adalah rekayasa pemilik taqdir
kita hanya manusia yang tertatih berjalan diatas garis taqdir yang Ia titahkan...
Alhamdulillah 'alaa kulli haal...

Cairo, 131214....
hati yang mendung beriring mendungnya langit Cairo...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar