Rabu, 06 Februari 2013

My First Exam in Al-Azhar Asy-syarieff

Jam Sudah Menunjukkan pukul 07.45 Waktu Mesir, Bergegas aku beranjak dari singgasana tidurku yang dipenuhi buku-buku dan contoh-contoh soal Ujian Al- Azhar 5 tahun terakhir maddah “lugoh ‘arobiyah (baca:Nahwu & Shorf). Menerobos masuk kamar mandi yang hanya selangkah dari pintu kamarku, berwudhu dan mendirikan 2 Rakaat Dluha.
                Setelah mengganjal perut seadanya, dan meminum segelas air hangat, secepat kilat kusambar sepasang EIGER yang beberapa hari terakhir duduk manis diatas rak sepatu. Hari ini termasuk hari yang cukup “STRANGE”(menakutkan) buatku, pasalnya hari ini adalah hari pertama kalinya Aku akan mengecap bagaimana rasanya menjalani ujian di universitas Al-Azhar, tetap saja aku tidak bisa sempurna menenangkan hati dan fikiranku, walau berkali-kali kakak-kakak senior memperingatkan aku untuk tetap calm down. Yang terbayang, segala sesuatu yang bersangkutan dengan Azhar itu “LUAR BIASA” dan aku yakin aku juga akan menghadapi sesuatu yang luar biasa hari ini. yah, Al-Azhar  luar biasa dari segala sisi, sistem pendataan yang masih sangat manual, Mahasiswa/i tidak diwajibkan hadir kuliah intinya ikut ujian, kami langsung ikut belajar dijaami'ah tanpa ada bimbingan dan i'dad, kisah mahasiswa yang 10 tahun kuliah gak lulus-lulus, yang awalnya hanya saya nonton di Sebuah film, ternyata saya buktikan sendiri disini, dalam tanda kutip belajar diAzhar butuh ke-extraan dibanding saat kita belajar diIndo dulu. Terpengaruh desas-desus Al-Azhar yang sangat perhitungan memberi nilai dsbg, masihkah aku bisa tenang???
                
Kupastikan bahwa segala sesuatunya tidak ada yang tertinggal, kerneh (baca: kartu ujian) pulpen, pensil, buku-buku dan kertas mantra alias contoh-contoh soal yang mungkin saja masih bisa kulirik sebelum ujian benar-benar dimulai, akhirnya, bilbasmalah kakipun turun mejajaki satu persatu anak tangga meninggalkan flat yang bersemayam ditingkat 4 sembari berdo’a dan mengulang pelajaran-pelajaran yang bebarapa hari ini sudah kuhapal dan kupahami mati-matian walau belum maksimal. Jarak Rumah-kuliah lumayan dekat, karena masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki +10 menit jalan ala orang Mesir. Alhamdulillah, pukul 8.45 sampai di Universitas tempatku menimba ilmu sekarang, Jaami’atul Azhar. Waww,,, Ramaii bangett, turun tangga sampai berdesakan kaya orang antrian naik kapal laut antar pulau. Hiks, badanku terjepit diantara orang-orang Mesir yang berperawakan lebih besar dan tinggi dari postur orang Asia yang tinggi dan besarnya standar. Bodo Amat, badan mungilku menerobos postur-postur besar yang sedari tadi membuat dadaku sesak.
               
 MAsih ada setengah jam untuk mengulang-ngulang pelajaran, kupercepat langkahku menaiki anak tangga mencari ruangan ujian untuk segera memilih tempat ternyaman. Waduh, musibah, keliling satu ruangan mencari namaku tapi tidak ada satupun kertas yang tertempel diruangan yang sudah kupastikan sebelumnya bahwa inilah ruangan tempatku ujian menampung namaku . Kalang kabut, waktu terus berputar, ujian sebentar lagi dimulai, pelajaran belum sepenuhnya ku ulang, malah buyar dengan keadaan sekarang yang semerawut. Akhirnya kupastikan sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, dan benar-benar tak ada namaku, akupun bergegas mencari petugas, yang kemudian menjadi penunjuk jalan hingga aku berada pada ruangan yang tepat. Hufftt, tadi salah masuk. Syukurlah setelah memeriksa satu demi satu nama disetiap kertas yang tertempel, akhirnya aku menemukan juga Tulisan Arab “Nurul Qolbi Muhammad Tasyrif”
                Beberapa detik kelegaanku berlangsung, break setelah teguran dari depan yang memberi warning 10 menit lagi ujian akan dimulai dan memastikan dengan melirik jam tangan pemberian abahku, Masya Allah, sudah pukul 09.21,,, tanpa BA-BI-BU, kubolak-balik buku pelajaranku, twrus membolak –balik walau aku tau itu semua tidak lagi berguna, setelah buku, kertas mantra-mantraku yang gentian ku buka tutup, membaca sambil berharap semuannya masih setia bertengger diotak Kecilku.
                Dugaanku tidak meleset, bahkan berada pada jalur dan derajat yang sudah terprediksi oleh alam bawah sadarku 24 jam sebelum ujian berlangsung. Bener, hal-hal luar biasa baru saja kujalani, dan sekarang aku juga sedang menjelajahi soal-soal yang luar biasa. Menatap soal, yang berdurasi 3 jam, mengingatkan aku saat-saat ulangan dipondok dulu, waktu 90 menit lebih dari cukup untuk memenuhi 1 lemabar jawaban, bahkan masih sempat ngantuk dan tertidur duduk diruang ujian apalagi yang berdurasi 120 menit. Nah, berbeda 90 derajat hari ini, 3 jam alias 90X2 Menit, bagiku masih kurang untuk menjawab soal-soal yang memutar balik otak kanan dan kiriku, belakang dan depan kalau ada. Kufokuskan fikiran, menelaah soal demi soal, tak lupa berdo’a meminta petunjuk dari Allah.  Bismillah…
                “Kumpulkan, waktu Habis” pengumuman dari salah seorang ablah (petugas) dengan bahasa Mesirnya, sisa 1 nomor belum terisi, gregetan rasanya pengen ngembalikan waktu lagi sekitar 8 menitlah untuk menjawab soal yang bagiku cukup unyu-unyu itu, tapi apa daya, ku tak kuasa, alternative terakhir isi sembarangan aja, dari pada kosong, kali aja ada karomah, kesembaranganku menjadi sebuah kebenaran. Ablah sudah menegur untuk kesekian kalinya, syukurlah, masih banyak yang bernasib sama denganku, jadi ikut jurus mereka yang pura-pura tidak mendengar padahal sudah deg-degnya minta ampun takut lembaran jawaban ditarik paksa. Dengan jawaban simple dan belum tentu benar kuselesaikan soal unyu-unyu terakhirku, dan kembali memeriksa nama dan nomor dudukku. 12.602, yah no urut yang benar, sambil senyum terpaksa, efek dari soal unyu-unyu tadi, akhirnya akupun berdiri dan dengan berat mengumpulkan lebaran jawabanku ke-atas meja.
                Keluar dari ruangan dengan  seribu model muka dan seribu perasaan tidak jelas menghiasi sebongkah hati, kesel mengingat insiden sebelum ujian pertamaku dimulai, ngedumel ingat soal unyu-unyu yang masih saja terbayang menertawai ke”excellent”anku yang sama sekali tidak tau jawabannya. Tapi, semua itu udah berlalu, intinya ujian pertamaku selesai walau tidak berjalan seperti yang kuharapkan. Hmmm, semua ada hikmahnya ko, hatiku mulai berdamai  dengan seribu perasaan yang sempat menyapanya dan melangkahkan kaki menciptakan jejak disetiap anak-anak tangga dikampus legendaris itu. Melangkah santai sambil berbenah, ujian selanjutnya harus dating lebih awal dan belajar lebih extra. Bismillah wAlhamdulillah ‘alaa kulli haal…

1 komentar: