Rabu, 06 Februari 2013

Menutup Tahun Di Pasar Hussein

Beberapa hari sebelum tahun 2012 menggenapkan harinya, disore hari, saya keluar rumah dan melangkahkan kaki ke Mahattoh, menunggu angkutan umum apa saja itu yang biasa mengantar penumpang-penumpangnya menuju “Jaami’atul Azhar”. Dan, tepat beberapa meter dari situ bersemayamlah  pasar Husaen, pasar yang menjadi tujuan utama saya melangkahkan kaki keluar dari istana kecil yang berada disebuah ‘imaroh dikawasan rob’ah al-adaweah tepatnya ditingkat 4.



            Gelap sudah mulai menutupi kota kairo sore itu, saat bus yang saya tumpangi berhentii diperempatan jalanan. Disinilah jalan masuk menuju pasar yang saya tuju. Sayup-sayup terdengar azan Magrib dari berbagai penjuru, beruntung diMesir disetiap sudut kita pasti menjumpai Jaami’ maupun musollah-musollah kecil, jadi tidak ada alas an bagi saya dan setiap muslim yang bermukim diatasnya untuk tidak shalat pada waktunya apalagi untuk meninggalkan rukun ke-2 dalam rukun islam ini.

Sholat Berjama’ah di Masjid penuh sejarah “Masjid Al-Azhar” kemudian bertolak kepasara husaen yang hanya dituju dengan jalan kaki. Untuk mengganjal perut yang sedari tadi siang belum mendapatkan haknya, dengan seporsi humburger rasa Sapi panggang, dan seperempat botol air mineral Aquafina, alhmdulillah membuat perut kembali bersahabat. Dan kaki juga semakin enak diajak kompromi untuk memasuki pasar tujuan saya kali ini.




kurang tau asal-usul penamaanyya, intinya pasar ini berada dikawasan Masjid yang juga menyejarah, Masjid Hussein.Tidak ada yang istimewa dari pasar ini, Layaknya pasar-pasar biasa, ia selalu dibanjiri oleh pejual dan pembeli, kuli-kuli pengangkat barang, pedagang asongan ataupun pengemis-pengemis yang mencari sekeping uang logam demi membeli sesuap makanan. Padat, bising, pengap, itulah warna yang selalu menghiasi pasar-pasar kebanyakan dan semua itu juga tak luput dari pusat perbelanjaan yang satu ini. Tapi, ada satu hal yang menarik perhatian saya, para penjual disini selalu menawarkan barangnya dengan bahasa Indonesia, lebih tepatnya bahasa Melayu. Kata-kata seperti “Banting Harga, harga percuma, hanya 2 Genneh (Mata Uang Mesir) harga  murah, silahkan masuk” merupakan kata-kata yang kerap kali kita dengar saat berkunjung dipasar ini selain apa kabar, mungkin karena factor pengunjung juga yang lumayan banyak dari Asia tenggara yang mana bahasa melayu merupakan bahasa percakapan sehari-hari mereka.




Masuk kedalam dan berbaur dengan keramaian pasar, melihat kesana sini mencari target belanjaan saya kali ini, sesekali mampir melihat-lihat walau tidak ada niat membeli. Selain barang-barangnya yang lengkap, harga murah juga merupakan alasan sebagian besar mahasiswa berbelanja disini, tak terkecuali saya, walaupun ini baru yang ke-2 kali semenjak kaki menginjak negeri pijakan para anbiya 4 bulan yang lalu. Kebutuhan seperti makanan, souvenir khas Mesir, kain, jubbah, jilbab, selimut dan kebutuhan yang lain bisa kita dapatkan disini dengan harga lebih murah, dan kedatangan saya kali ini untuk mencari perlengkapan sejenis yang lebih tepatnya perlengkapan musim dingin, sebab beberapa hari yang lalu, mesir sudah disapa musim dingin.
berkeliling-keliling beberapa lama untuk memilah dan memilih, tawar menawar harga, dan ketika semua perlengkapan yang dicari sudah dalam plastic yang saya genggam, setelah itu berjalan mencari jalan keluar, tak sengaja melewati pedagang sepatu-sepatu musim dingin, saya membeli sepasang untuk dipake tidur. Melirik keseberang ada penjual buah-buahan,akhirnya saya merogoh kocek dan mendapatkan 2 kepingan uang logam, lumayan buat beli sekilo buah jeruk untuk oleh-oleh teman dirumah. 

Ketika saya melirik jam di pergelangan tangan saya,  jarum pendeknya telah menunjuk angka delapan. Tersadar akan hari yang sudah malam dan dingin sudah mulai menusuk-nusuk tulang, sayapun bergegas untuk kembali kerumah. Alhamdulillah, 5 menit menunggu angkutan umum, akhirnya melintaslah sebuah bus warna Merah yang akan saya tumpangi hingga ke kediaman saya di Rob’ah Adaweah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar