Gelap sudah mulai menutupi kota kairo
sore itu, saat bus yang saya tumpangi berhentii diperempatan jalanan. Disinilah
jalan masuk menuju pasar yang saya tuju. Sayup-sayup terdengar azan Magrib dari
berbagai penjuru, beruntung diMesir disetiap sudut kita pasti menjumpai Jaami’
maupun musollah-musollah kecil, jadi tidak ada alas an bagi saya dan setiap
muslim yang bermukim diatasnya untuk tidak shalat pada waktunya apalagi untuk
meninggalkan rukun ke-2 dalam rukun islam ini.

Sholat Berjama’ah di Masjid penuh
sejarah “Masjid Al-Azhar” kemudian bertolak kepasara husaen yang hanya dituju
dengan jalan kaki. Untuk mengganjal perut yang sedari tadi siang belum
mendapatkan haknya, dengan seporsi humburger rasa Sapi panggang, dan seperempat
botol air mineral Aquafina, alhmdulillah membuat perut kembali bersahabat. Dan
kaki juga semakin enak diajak kompromi untuk memasuki pasar tujuan saya kali
ini.

kurang tau asal-usul penamaanyya, intinya pasar ini berada dikawasan Masjid yang juga menyejarah, Masjid Hussein.Tidak ada yang istimewa dari pasar
ini, Layaknya pasar-pasar biasa, ia selalu dibanjiri oleh pejual dan pembeli,
kuli-kuli pengangkat barang, pedagang asongan ataupun pengemis-pengemis yang
mencari sekeping uang logam demi membeli sesuap makanan. Padat, bising, pengap,
itulah warna yang selalu menghiasi pasar-pasar kebanyakan dan semua itu juga
tak luput dari pusat perbelanjaan yang satu ini. Tapi, ada satu hal yang
menarik perhatian saya, para penjual disini selalu menawarkan barangnya dengan
bahasa Indonesia, lebih tepatnya bahasa Melayu. Kata-kata seperti “Banting
Harga, harga percuma, hanya 2 Genneh (Mata Uang Mesir) harga murah, silahkan masuk” merupakan kata-kata
yang kerap kali kita dengar saat berkunjung dipasar ini selain apa kabar,
mungkin karena factor pengunjung juga yang lumayan banyak dari Asia tenggara
yang mana bahasa melayu merupakan bahasa percakapan sehari-hari mereka.
Masuk kedalam dan berbaur dengan
keramaian pasar, melihat kesana sini mencari target belanjaan saya kali ini,
sesekali mampir melihat-lihat walau tidak ada niat membeli. Selain barang-barangnya
yang lengkap, harga murah juga merupakan alasan sebagian besar mahasiswa
berbelanja disini, tak terkecuali saya, walaupun ini baru yang ke-2 kali
semenjak kaki menginjak negeri pijakan para anbiya 4 bulan yang lalu. Kebutuhan
seperti makanan, souvenir khas Mesir, kain, jubbah, jilbab, selimut dan
kebutuhan yang lain bisa kita dapatkan disini dengan harga lebih murah, dan
kedatangan saya kali ini untuk mencari perlengkapan sejenis yang lebih tepatnya
perlengkapan musim dingin, sebab beberapa hari yang lalu, mesir sudah disapa
musim dingin.
berkeliling-keliling beberapa lama untuk memilah dan memilih,
tawar menawar harga, dan ketika semua perlengkapan yang dicari sudah dalam
plastic yang saya genggam, setelah itu berjalan mencari jalan keluar, tak
sengaja melewati pedagang sepatu-sepatu musim dingin, saya membeli sepasang
untuk dipake tidur. Melirik keseberang ada penjual buah-buahan,akhirnya saya
merogoh kocek dan mendapatkan 2 kepingan uang logam, lumayan buat beli sekilo
buah jeruk untuk oleh-oleh teman dirumah.
Ketika saya melirik jam di pergelangan tangan saya, jarum pendeknya telah menunjuk angka delapan.
Tersadar akan hari yang sudah malam dan dingin sudah mulai menusuk-nusuk
tulang, sayapun bergegas untuk kembali kerumah. Alhamdulillah, 5 menit menunggu
angkutan umum, akhirnya melintaslah sebuah bus warna Merah yang akan saya
tumpangi hingga ke kediaman saya di Rob’ah Adaweah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar