Jumat, 16 Agustus 2019

Seimbang

Dalam satu riwayat, dikisahkan tiga orang sahabat mendatangi rumah-rumah Rasulullah untuk bertanya perihal ibadah beliau. Setelah mendapat jawaban dari istri-istri Rasulullah merekapun mengambil kesimpulan lalu pulang.
Diperjalanan mereka akhirnya mengemukakan pendapat masing-masing, lalu berkesimpulan bahwasanya Rasulullah adalah seorang Nabi yang maksum dan terpelihara dari dosa, tapi beli masih gigih dalam beribadah, bagaimana dengan kita yang bukanlah seorang nabi dan tidak maksum.
Orang pertamapun bersumpah akan puasa setiap hari.
Orang kedua bersumpah akan melaksanakan qiyamullail sepanjang malam tanpa tidur.
Dan yang terakhir bersumpah tidak akan menikah.
Hingga akhirnya sampailah kabar tentang perbuatan ketiga sahabat tersebut kepada Rasulullah sallahu alaihi wasallam. Beliau kurang setuju dengan apa yang mereka lakukan, dan meluruskanya.
Rasulullahpun bersabda : "Sesungguhnya akulah hamba yang paling bertaqwa dan paling takut kepada Allah, Aku melaksanakan puasa tapi aku juga berbuka, aku bangun dimalam hari tapi aku juga tidur, dan aku juga menikah dan menggauli istri-istriku".
Kisah diatas mengandung ajaran keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Sesungguhnya dunia adalah wadah yang Allah hamparkan untuk diambil manfaat sebanyak-banyaknya oleh manusia .
lslam mengajarkan keseimbangan dalam menjalani hidup, menjadi muslim tidak berarti kita harus terkungkung hingga menjadi kaum terbelakang, menjadi muslim kita tidak mesti hidup miskin kemudian menjadikan kita kaum yang malas.
Menjadi ummat yang terdepan dalam segala aspek tidak selalu bermakna kita tamak akan dunia, dan perintah zuhud dalam agama bukan berarti kita mengharamkan yang halal untuk kita. Semua ini adalah paradigma yang amat salah dan masih diamini oleh banyak orang yang tidak paham dengan agamanya sendiri.
Islam agama yang sangat universal. Tidak hanya memperhatikan masalah akhirat saja, tetapi urusan dunia seseorang juga amat diperhatikan.
Dalam surah Al-Isra ayat 29 Allah berfirman :
"Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu ( amat kikir ) dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya ( sangat pemurah) nanti kamu jadi tercela dan menyesal".
Ayat di atas mengandung ajaran bagaimana menyeimbangkan antara dunia dan akhirat kita dalam hal berinfak. Allah memerintahkan kita berinfak, jangan terlalu pelit, hingga kita tidak memiliki tabungan akhirat, jangan juga terlalu memaksa diri untuk menginfakkan keseluruhannya hingga kita menyesal karena tidak lagi memiliki apa-apa. Kesimpulannya berinfaklah sewajarnya saja dan simpan sebagian untuk bekalmu esok hari.
Dalam satu ayat juga Allah berfirman:
"Carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang Allah telah anugerahkan kepadamu, tapi jangan sampai lupa keperluanmu di dunia". (QS. Al-Qassas : 77)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar