Rabu, 07 November 2018

Impian yang Tertunda


Hari esok dan segala yang bersentuhan dengannya adalah sebuah teka-teki kehidupan. Begitu juga sebuah impian kudeskripsikan. Ia hanyalah sebuah kumpulan target masa depan yang masih terus menjadi misteri hingga ia terwujud suatu hari nanti.
Semua orang harus punya impian, jika hidupnya ingin lebih baik. Bahkan dalam ilmu psikologi, semakin sering kita menggaungkan impian kita, semakin mendekat kita pada mimpi tersebut. Setidaknya memberi indikasi bahwa sukses berawal dari sebuah mimpi.
Aku juga seperti itu, sebagai insan akademik yang punya ambisi tinggi. Dulu punya mimpi kuliah diluar negeri, ingin lulus dengan nilai menterang dan harus langsung melanjutkan studi ke jenjang Magister.
Sebuah pepatah mengatakan, manusia hanya merencanakan Tuhan jualah yang menentukan. Manusia berencana dengan memadukan keindahan semu yang terlihat oleh matanya, sedangkan tuhan bekerja dengan keindahan yang ada dibalik tabir kehidupan. Yah, rencana Allah jauh lebih baik.
Aku menikah di semester akhir perkuliahanku di Universitas Al-Azhar Kairo, dan Allah izinkan aku mengandung sesaat setelah kelulusan. Alhamdulillah aku sangat bersyukur walau aku tau ada impian yang sedikit tertunda.
Aku tidak terus menimbun impian melanjutkan studi, hanya menggeser waktunya saja. Mungkin ketika anak sudah menginjak usia 1 tahun akan mewujudkannya. Pikirku waktu itu.
Waktupun berlalu dan anakku kini berusia 17 bulan dan aku belum resmi kembali menjadi mahasiswi. Banyak alasan yang membuatku harus menundanya kembali.
Memberi kesempatan kepada suami untuk segera menyelesaikan tugas tesisnya juga memberi ruang dan waktu pada diriku sendiri untuk menjadi ibu yang lebih baik.
Bagiku, kurang bijak rasanya untuk memilih mendaftarkan anak dipusat penitipan hanya karena aku harus fokus ke studi, anak masih terlalu kecil. Karena sekarang domisili berada di Malaysia dan tak seorangpun sanak keluarga yang bisa dimintai tolong untuk urusan rumah tangga. Mungkin akan berbeda jika memilih kuliah di negeri tercinta, Indonesia.
Impianku mungkin saja tertunda, tapi aku sama sekali tidak berkecil hati, impian tertunda bukan berarti tertolak dan aku harus menguburnya dalam-dalam. Tertunda sama sekali tidak berarti gagal,
semuanya hanya masalah waktu.
Semakin tertunda semakin kupupuk impian itu. Aku yakin semakin subur rasa optimisme didada semakin dekat pula aku pada impian tersebut. 😍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar